Kamis, 26 November 2015

ILMU SEJARAH

ILMU SEJARAH
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
Mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial









Disusun oleh,
Kelompok 7    :
Achmad Firman Firdaus
Danu Alfarizi
Fajar Putro
Nuhiyah
Zahrotul Uyun




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
KATA PENGANTAR

Assalamu”alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah karena telah memberikan limpahan nikmat dan karuniaNya, Sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan Makalah “Ilmu Sejarah” ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di yaumul akhir nanti.
Penyusunan makalah  ini di dasari pada tinjauan pustaka  mengenai Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Sejarah,Metode dan Ilmu Bantu Sejarah, tujuan dan Kegunaan Sejarah,Sejarah Perkembangan Sejarah, Hubungan Ilmu Sejarah dengan Ilmu Sosial Lainnya, Menuju Rapproachement Sejarah dengan Ilmu Sosial lainnya, Konsep-Konsep Sejarah, Generalisasi Sejarah dam Teori – Teori Sejarah. Makalah  ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Sosial. Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Eko Ribawati, M.Pd. selaku Dosen Mata Kuliah PEngantar Ilmu Sosial dan semua pihak yang telah memberikan bantuannya sehingga makalah ini dapat terselesaikan.   
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Oleh karena itu, Kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
                            
Serang,   09 September 2015


Penyusun
i

Daftar Isi

Kata Pengantar………………………………………..……………........................i
Daftar Isi……………………………………………….…………………….…....ii
BAB I Pendahuluan
1.1   Latar Belakang………………………………………..…………………...1
1.2   Rumusan Masalah………………………………………………..…..…....1
1.3   Tujuan………………………………………………….……..……...……1
BAB II Pembahasan
1.1  Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah …………………………………..3
1.2  Metode dan bantu sejarah………………………………...………..……..14
1.3  Tujuan dan kegunaan sejarah……………………………………..….…..15
1.4  Sejarah perkembangan sejarah………………………………………..….15
1.5  Hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya………………..18
1.6  Menuju Rapproachment sejarah dengan ilmu sosial lainnya………….....20
BAB III Kesimpulan ……………………………..……………………………...21
DAFTAR PUSTAKA…………………………………….……………………...22














ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Ilmu sosial (bahasa Inggris: social science) atau ilmu pengetahuan sosial (Inggris:social studies) adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metoda kuantitatif, dan kualitatif. Istilah ini juga termasuk menggambarkan penelitian dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku, dan interaksi manusia pada masa kini, dan masa lalu. Berbeda dengan ilmu sosial secara umum, IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat.
Sejarah merupakan salah satu cabang dari ilmu sossial yang merupakan induk bagi ilmu sosial lain. Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia, yang berarti "penyelidikan, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian") adalah studi tentang masa lalu, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia.
Didalam makalah ini, akan dijelaskan lebih lanjut tentang sejarah dan katiannya dengan ilmu sosial lain.

1.2              Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian dan ruang lingkup sejarah?
b.      Bagaimana metode ilmu sejarah?
c.       Apa tujuan dan kegunaan sejarah?
d.      Bagaimana sejarah perkembangan sejarah?
e.       Bagaimana hubungan ilmu sejarah dan ilmu sosial lainnya?
f.       Apa saja konsep-konsep sejarah?
g.      Bagaimana generalisasi sejarah?
h.      Apa saja teori-teori sejarah?

1.3       Tujuan
a.       Untuk mengetahui pengertian dan ruang lingkup sejarah?
b.      Untuk mengetahui metode ilmu sejarah?
c.       Untuk mengetahui tujuan dan kegunaan sejarah?
d.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan sejarah?
e.       Untuk mengetahui hubungan ilmu sejarah dan ilmu sosial lainnya?
f.       Untuk mengetahui konsep-konsep sejarah?
g.      Untuk mengetahui generalisasi sejarah?
h.      Untuk mengetahui saja teori-teori sejarah?

 BAB II
PEMBAHASAN
2.1         Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah
Istilah sejarah berasal dari bahasa arab, yakni dari kata syajaratun (dibaca syajarah), yang memiliki arti pohon kayu. Pengertian pohon kayu disini adalah adanya suatu kejadian, perkembangan atau pertumbuhan tentang suatu hal (peristiwa) dalam suatu kesinambungan (kontinuitas). Dengan demikian, pengertian sejarah yang dipahami sekarang ini dari bahasa inggris, yakni history yang bersumber dari bahasa yunani kuno historia (dibaca istoria) yang berarti belajar dengan cara bertanya-tanya.
Setelah menelusuri arti sejarah yang dikaitkan dengan arti kata syajarah dan dihubungkan pula dengan kata histori, bersumber dari kata historia (bahasa yunani kuno) dapat disimpulkan bahwa arti kata sejarah sendiri, sekarng ini memiliki makna sebagai cerita, atau kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masalalu. Yang jelas kata kuncinya bahwa sejarah  merupakan suatu penggambaran atau pun rekonstruksi pristiwa, kisah, maupun cerita, yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu
1)                  Sejarah sebagai peristiwa
Sebab kejadian yang tidak memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat manusia bukanlah merupakan peristiwa sejarah karna itu, konsep siapa yang menjadi subjek dan objek sejarah serta konsep waktu, keduanya menjadi penting.
Pengertian sejarah sebagai peristiwa sebenarnya miliki makna yang sangat luas dan beraneka ragam. Keluasan dan keanekaragaman tersebut sama dengan luasnya kompleksitas kehidupan manusia.
Sejarah sebagai peristiwa sering pula disebut sejarah sebagai kenyataan sejarah serba objektif (Ismaun,1993:279). Artinya, peristiwa persitiwa tersebut benar benar terjadi dan didukung oleh efidensi efidensi yang menguatkan, seperti saksi mata (witness) yang dijadikan sumber sumber sejarah (historical sources), peninggalan peninggalan (relics atau remains), dan catatan catatan (records) (Lucey, 1984: 27).
Selain itu, dapat pula peristiwa itu diketahui dari sumber-sumber yang bersifat lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut. Menurut Sjamsuddin (1996: 78), ada dua macam sumber lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan. Kedua, tradisi lisan (oral reminiscene), yaitu ingatan tangan pertama yang dituturkan secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan. Kedua, tradisi lisan (oral tradition), yaitu narasi dan deskripsi dari orang-orang dan peristiwa-peristiwa pada masa lalu yang disampaikan dari mulut ke mulut selama beberapa generasi. Apa pun bentuknya, peristiwa sejarah baru diketahui apabila ada sumber yang sampai kepada sejarawan dan digunakan untuk menyusun peristiwa berdasarkan sumber. Suatu cerita sejarah sangat tergantung oleh kemahiran sejarawan itu sendiri dan kelengkapan sumber yang tersedia.
Disitulah kemahiran atau kecakapan seorang sejarawan diuji kemampuannya. Menurut Wood Gray (1964:9), untuk menyusun suatu cerita dan eksplanasi sejarah, setidaknya ada 6 langkah penelitian :
a.                       Memilih 1 topik yang sesuai
b.                       Mengusut semua evidensi (bukti yang relevan dengan topic)
c.                       Membuat catatan tentang itu, apa saja yang dianggap penting dan relevan dengan topik yang ditemukan ketika penelitian sedang berlangsung (misalnya, dengan menggunakan system card).
d.                       Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan ( kritik sumber ).
e.                       Menyusun hasil-hasil penelitian (catatan fakta-fakta) ke dalam suatu pola yang benar dan berarti, yaitu sistematika tertentu yang telah disiapkan sebelumnya.
f.                        Menyajikan dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian dan mengomunikasikannya kepada para pembaca sehingga dapat dimengerti sejelas mungkin.

1)                 Sejarah sebagai ilmu
Bury (Teggart, 1960:56) secara tegas menyatakan History Is Science; no less, and no more. Sejarah itu adalah ilmu, tidak kurang dan tidak lebih. Pernyataan ini mungkin tidak bermaksud untuk memberikan penjelasan batasan tentang sesuatu konsep, melainkan hanya memberikan tingkat pengkategorian sesuatu ilmu atau bukan.  Penjelasan tersebut jelas tidak memadai untuk memperoleh sesuatu pengertian. Definisi yang cukup sederhana dan mudah dipahami diperoleh dari car (1985:30) yang menyatakn bahwa history is a continous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past.
Daniel dan Banks (Sjamsudin, 1996:6) mengemukakan pengertian sejarah dari segi materi sejarah yang di sajikan dalam objek penelitian. Daniel berpendapat bahwa sejarah adalah kenangan pengalaman umat manusia. Sedangkan Banks berpendapat bahwa semua kejadian di masa lalu adalah sejarah, sejarah sebagai aktulitas. Selanjutnya, Banks mengatakan bahwa sejarah dapat membantu untuk memahami prilaku manusia pada masa yang lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang.
Gottchalk (1986:8) mengemukakan pendapat yang sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa:
Sesungguhnya sejarahwan yang menulia tidak menarik, dalam hal itu merupaka sejarahwan yang buruk. Secara professional ia wajib melukiskan peristiwa-peristiwa yang paling menggairahkan daripada masa lampau dunia dan menghirupkan kembali suasananya, di samping melukiskan peristiwa-peristiwa biasa.
Sejarah di katagorikan sebagai ilmu karena dalam sejarah pun memiliki “batang tubuh keilmuan” (the body of knowledge), metodologi yang spesifik. Sejarahpun memiliki struktur keilmuan tersendiri, baik dalam fakta, konsep, maupun generalisasinya (Banks, 1977: 211-219; Sjamsuddin, 1996:7-19). Kependudukan sejarah di dalam ilmu pengetahuan di golongkan ke dalam beberapa kelompok.
a.              Ilmu sosial, karena menjelaskan prilaku sosial. Oleh karena itu, pendidikan sejarah, khususnya di lingkungan Lembanga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTP), pendidikan sejarah termasuk pendidikan ilmu sosial, bukan pendidikan ilmu bahasa  dan sastra karena focus kajiannya menyangkut proses-proses sosial (pengaruh timbal balikantara kehidupan aspek sosial yang bersangkutan satu sama lain) beserta perubahan-perubahan sosial. Itu sebabnya dalam pembelajaran sejarah kajian-kajiannya selalu dtuntut pendekatan-pendekatan inter/multidisipliner karena tidak cukup dengan kajian sejarah naratif dapat menjelaskan aspek-aspek sosial yang melingkupinya dapat dieksplanasikan. Ditinjau dari usianya, sejarah termasuk ilmu sosial yang tertua yang embrionya telah ada dalam bentuk-bentuk mitos dan tradisi-tradisi dari manusia-manusia yang hidup paling sederhana (Gee, 1950: 36, Sjamsuddin, 1996:190).
b.             Seni atau art. Sejarah digolongkan dalam sastra. Herodotus (484-525 SM) yang di gelari sebagai “Bapak sejarah” beliaulah yang telah memulai sejarah itu sebagai cerita (story telling), dan sejak itu sejarah telah di masukkan ke dalam ilmu-ilmu kemanusiaan atau humaniora (Sjamsuddin, 1996: 189-190). Sejarah di katagorikan sebagai ilmu humaniora, terutama karena dalam dalam sejarah memelihara dan merekam warisan budaya serta menafsirkan makna perkembangan umat manusia. Itulah sebabnya dalam tahap historiografi dan eksplanasinya, sejarah memerlukan sentuhan-sentuhan estetika atau keindahan (ismaun, 1993: 282-283).

2)                              Sejarah sebagai cerita
Sejarah dapat di simpulkan sebagai hasil rekonstrusi intelektual dan imajinatif sejarawan tentang apa yang telah di pikirkan, di rasakan, atau telah di perbuat, oleh manusia, baik sebagai individu maupun kelompok bedasarkan atas rekaman-rekaman lisan, tertulis, atau peninggalan sebagai pertanda kehadirannya di suatu tempat tertentu. Sejarah bagi sejarawan merupakan wacana intelektual (intellectual discourse) yang tidak berkesudahan.
Dilihat dari ruang lingkupnya, terutama pembagian sejarah secara tematik, sejarah memiliki cakupan yang luas. Sjamsuddin dan Burke mengelompokkannya dalam belasan jenis sejarah, sebagai berikut            :
1.      Sejarah Sosial
Pengertian sejarah sosial dibuat oleh Travelyn dalam bukunya English Sosial History, A survey of Six Centuries (1942), ia mengemukakan bahwa sejarah sosial asalah sejarah tanpa manusia politik, yang maksudkan dengan sejarah sosial dapat didefinisikan secara negative sebagai sejarah dari sekelompok masyarakat tanpa mengikutsertakan politiknya. Mengingat tanpa sejarah sosial maka keberadaban sejarah akan gersang dan dangkal, untuk lebih jelasnya ia sendiri menjelaskan.
Sejarah sosial tidak hanya menyediakan mata rantai yang dibutuhkan antar sejarah ekonomi dan politik. Ruang lingkupnya dapat mencngkup kehidupan sehari-hari penghuni sebuah kawasan di masa lampau, ini meliputi manusia dan hubungan ekonomi dari berbagai kelas yang berbeda, ciri-ciri dari kehidupan keluarga rumah tangga, kondisi ketanakerjaan dan aktivitas waktu luang, sikap manusia terhadap alam,  budaya dari masing-masing zaman yang muncul dari kondisi-kondisi umum ini serta mengambil bentuk dalam agama, literature, arsitektur, pembelajaran, dan pemikiran (Thame, 2000: 983).
Bagi sejarawan Amerika Robert J. Bezucha (1972: x), mengartikan bahwa sejarah sosial itu adalah sejarah budaya yang mengkaji kehidupan sehari-hari anggota-anggota masyarakat dari lapisan yang berbeda-beda dari periode yang berbeda-beda. Selain itu, sejarah sosial merupakan sejarah dari masalah-masalah sosial dan sejarah ekonomi lama. Kemudian, sejarawan Inggris Hobsbawm (1972: 2) menyebut sejarah sosial mengkaji dari sejarah dari orang-orang miskin atau kelas bawah; gerakan-gerakan sosial; berbagai kegiatan manusia, seperti tingkah laku, adat istiadat, kehidupan sehari-hari; sejarah sosial dalam hubungannya dengan sejarah ekonomi. Sedangkan dari sejarawan Prancis, seperti Lucien Febre dan Marc Bloch yang merupakn tokoh penting dalam jurnal Ananales d’historie, economique et sociale (1929) mengemukakan bahwa sejarawan sosisl berhubungan dengan sejarah ekonomi.
Sedangkan di Indonesia, sejarah sosial di Indonesia mulai berkembang tahun 1960-an ketika Sartono Kartodirdjo mempertahankan disertainya yang berjudul Pemberontakan Petani Banten tahun 1888 (Sjamsuddin, 1996: 204).
2.      Sejarah Ekonomi
Status sejarah ekonomi sebagai bidang studi tersendiri dikukuhkan dengan di bentuknya  Economic History Society pada tahun 1926 dan jurnalnya Economic History Review terbit (1927). Factor yang penting lainnya adalah di bentuknya  National Beureu of Reserch pada tahun 1920.
Cliometri adalah sejarah yang menggunakan hitungan-hitungan (kuantifikasi) statistic dan sebagainya (Sjamsuddin, 1996: 210).
3.      Sejarah Kebudayaan
Kartodirdjo (1992: 195), mengemukakan semua perwujudan, baik yang berupa struktur maupun proses dari kegiatan manusia dalam dimensi ideasional, etis, dan estetis adalah kebudayaan.  Hal itu sejalan dengan Sjamsuddin (1996: 213) yang mengemukakan semua bentuk manifestasi keberadaan manusia berupa bukti atau saksi, seperti artifact (fakta benda), mentifact (fakta mental-kejiwaan), dan socifact (fakta atau hubungan sosial), termasuk dalam kebudayaan. Jadi, sejarah kebudayaan itu memang luas. Hal itu berbeda dengan yang di ajarkan di tingkat sekolah, ruang lingkup kebudayaan itu lebih berkisar pada arkeologi. Di dalamnya termasuk peninggsln-peninggaln zaman Hindu-budha, Islam, pejajahan Belanda, serta Jepang yang berkaitan dengan kepercayaan, seni bangunan, seni sastra, seni pahat dan lain-lainya. Akan tetapi dalam pengertian sejarah kebudayaan baru tidak sesempit itu. Aspek-aspek, seperti gaya hidup, etika, etiket pergaulan, kehidupan keluarga sehari-hari, pendidikan, berbagia adat-istiadat, upacara adat, siklus kehidupan, dan sebagainya (Kartodirdjo, 1992:195).
4.      Sejarah Demografi
Penulisan sejarah geografi tersebut didasarkan atas data kependudukan Inggris pada abad ke-16. Sebenarnya sejaraj pelaksanaan sensus penduduk di dunia telah diadakan beberapa ribu tahun lalu, sesuai dengan kerajaan Mesir Kuno, Persia<, Ibrani, Jepang kuno, danYunani kuno (Teuber, 2000:99). Mungkin sensus yang berkesinambungan tertua di Amerika Seriakat, biasanya di lakukan sepuluh tahun sekali, terutama sejak tahun 1790 (Taeuber, 2000: 99). Perkembangan sekarang ini karena teknologi computer dan kemajuan produser perumusan sampel pun menimbulkan perubahan-perubahan penting terhadap praktik sensus. Kemajuan ini membuka peluang bagi dikembangkannya berbagai jenis produser teknis, statis, dari data yang sama sehingga dapat menghasilkan informasi-informasi yang jauh lebih lengkap dan bervariasi.
Dalam ekonomi masyarakatyang sudah maju, angka kematian dan kelahiran cenderung menurun. Contohnya, Prancis menurun pada abad ke-18, begitu pula Inggris dan beberapa Negara Eropa Tengah pada abad ke-19. Implikasi teori ini bahwa perbaikan kesehatan umum tanpa industrialisasi akan menghasilkan pertumbuhan penduduk yang luar bias, di mana industrialisasi yang kurang slebih secara otomatis akan menstabilakn jumlah pendududuk (Sjamsuddin, 1996: 211).
5.        Sejarah Politik
Dalam sejarah konvensional, sejarah politik memiliki kedudukan yang dominan dalam historiografi Barat. Akibatya, timbul tradisi yang kokoh bahwa sejarah konvensional adalah sejarah politik (Kartodirdjo, 1992:46). Karakteristik utama dalam sejarah konvensional adalah bersifat deskriptif-deskriptif, terutama sejarah makro yang mencakup proses pengalaman kolektif di tingkat nasional maupun unit politik besar lainnya. Sebagai karakteristik lainnya, dalam sejarah politik gaya lama tersebut, biasanya mengutamakan diplomasi dan peranan tokoh tokoh besar srta pahlawan-pahlawan yang berpengaruh besar.
Hal itu berbeda dengan “sejarah politik gaya baru” yang sifatnya multimedimensional, di mana sejarah politik itu dibuat menarik, mengingat dalam eksplanasinya lebih luas, mendalam, dan tidak terjebak dalam determinisme historis (Kartodirdjo, 1992:49).cakrawala analisisnya lebih luas dan mendalam karena yang di bahas, seperti struktur kekuasaan, kepemimpinan, para elite, otoritas, buday politik, proses mobilitas, jaringan-jarinagan politik dalam hubungannya dengan sistem dan proses-proses sosial, ekonomi, dan sebagainya. Dengan demikian, aspek-aspek kehidupan yang saling berkaitan, seperti aspek ekonomi dan politik maupun dengan aspek-aspek budaya saling ketergantunagnya akan menunjukkan kompleksitas yang dapat dikembalikan kepada hubungan antara dua spek secara isomorfik yang parsial. Di situlah keunggualan “sejarah politik gaya baru”.
6.      Sejarah Kebudayaan Rakyat
Yang di maksud rakyat dan populer di sisni menurut sejarawan Richards (1988:126) maupun smith (1988:123) adalah kebudayaan kelompok-kelompok dan kelas-kelas yang terpuruk,dikuasai dan diperintah (subordinasi). Kebudayaan rakyat atau massa tersebut diekspresikan dalam selera-selera, kebiasaan, kepercayaan, sikap dan tingkah laku, serta hiburan-hiburannya. Memiliki pertunjukan dalam bentuk ritual, lagu-lagu rakyat,festifal rakyat, dan cara berbicara atau berbuat tertentu. Kebudayaan rakyat yang masih eksis,seperti upacara-upacara ritual sedekah laut (untuk masyarakat nelayan) atau sedekah bumi (untuk masyarakat pedalaman).

7.      Sejarah intelektual
Secara filosofis, hubungan sejarah intelektual lebih erat dengan aliran fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi mengkaji tentang fenomena-fenomena atau apa saja yang tampak,berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia (Bagus, 2000:234). Tidak semua bentuk kesadaran meninggalkan bekas, baik dokumen maupun monumen. Contoh konkretnya bahwa sejarawan dituntut untuk dapat merekam ideologi-ideologi politik liberalisme, sosialisme, konservatisme, gagasan-gagasan tokoh Thomas Hobbes, John Locke, J Rouseau, Hegel, dan sebagainya.

8.      Sejarah keluarga
Sejarah keluarga  (family history) mulai muncul pada tahun 1950-an, pada umumnya, orang yang berminat menelaah dalam sejarah keluarga adalah mereka yang ingin mencari pemahaman mengenai cikal bakal keluarganya sendiri. Federasi peminat sejarah keluarga pun menerbitkan Newsletter setiap enam bulan sekali dengan judul Family History News Digest.
Ada empat pendekatan pokok yang digunakan untuk mengkaji asal usul keluarga,yaitu:
  
1.     Dalam kajian pendekatan psikohistori, menyajikan perspektif yang jernih tentang motivasi,kesadaran dan kealpaan generasi lampau.
2.     Dalam pendekatan demografi, lebih mementingkan data-data perjuangan hidup masa lampau, Fokus mereka tertuju pada bentuk struktur rumah tangga,usia pernikahan pertama,pola pengasuhan anak,dan pola kehidupan sehari-hari.
3.     Pendekatan sentimen keluarga, Mengemukakan tentang perasaan-perasaan kedekatan hubungan keluarga yang bersifat akrab, hangat, dan egaliter atau mungkin terbalik keadaannya.
4.     Pendekatan ekonomi rumah tangga, lebih menekankan penelahaan lingkungan mikroekonomi, pekerjaan,sampai hal-hal hubungan aspek ekonomi dengan non ekonomi.

9.      Sejarah etnis
            Pada umumnya, sejarah etnis (ethnohistory) ditulis untuk merekontruksi sejarah dari kelompok-kelompok etnis sejak sebelum datangnya bangsa eropa sampai dengan interaksi mereka dengan orang-orang eropa. Sejarah etnis tersebut mulai digunakan secara umum oleh pakar antropologi, arkelologi, dan sejarawan, sejak tahun 1940-an (Sjamsuddin,1996:215) Contoh sejarah etnis adalah sejarah etnis Aztec, Maya, Aborigin, dan Maori, Sumber-sumber yang mereka gunakan, selain dari bahan-bahan etnografis yang ditulis tentang kelompok etnis-etnis tersebut, dari tradisi-tradisi lisan (oral traditions) yang masih bertahan di antara kelompok etnis tersebut.
Seorang sejarawan harus pandai menginterpretasikan keterangan-keterangan dari kesaksian-kesaksian lisan mengenai masa lampau. Adapun ruang lingkup sejarah etnis ini mencakup kajian-kajian yang meliputi aspek-aspek sosial, ekonomi, kebudayaan, kepercayaan masyarakat, interaksi dalam lingkungan masyarakatatau kelompok, kekerabatan, perubahan-perubahan sosial budaya, migrasi dan sebagainya.

10.  Sejarah Psikologi dan psikologi histori      
             Mungkin benar tulisan peter burke dalam histoty and social teory yang menyebutkan bahwa sampai sekarang ini peranan psikologi masih agak marjinal dalam histiografi, dan alasannya banyak yang menyadarkan pada relasi psikologi dan sejarah namun dalam perkembangan kaitannya, relasi psikologi dan sejarah tersebut terdapat dua kejutan yang terjadi.
Kejutan pertama, tahun 1930-an beberapa sejarawan terutama dua sejarawan perancis marc bloch dan Lucien febre yang menyebar luaskan dan mencoba memperaktikkan  apa yang mereka sebut dengan psikologi sejarah yang berlandaskan psikologi. Sebenarnya, sejarah mentalitas ini pada dasarnya menggunakan pendekatan aliran Durkheim terhadap ide-ide. Sejarah mentalitas ini di kembangkan oleh pengikut Durkheim .
            Pendekatan ini menggunakan tiga bentuk pendekatan yaikni:
a.       Menekankan sikap kolektif atau kelompok dari pada individu
b.      Fokusnya pada asumsi-asumsi tersirsat dari pada teori-teori eksplisif terutama pada akal sehat, dan
c.       Orientasinya pada struktur system keyakinan dan perhatian terhadpa katagori-katagori dalam menafsirkan pengalaman.
Kejutan kedua, terjadi di Amerika Serikat pada dasawarasa 1950-an beredar istilah baru yang menyebutya suatu pendekatan baru yang mengasikkan yakni psiko sejarah. Pengkajian terhadap Luther Muda yang di lakukan oleh Erik-Erikson dengan psiko analisis menimbulkan berdebatan. Sementara itu, tiba-tiba ketua Asosiasi Sejarawan Amerika, Langer yang merupakan negarawan yang di segani pun membuat kejutan denagn mengatakan tugas yang menunggu para sejarawan adalah mengadopsi psikologi sejarah lebih serius di banding dengan masa-masa sebelumnya sejak saat itu, di terbitkanlah jurnal-jurnal psiko sejarah dan para pemimpin besar, seperti Trocsky, Gandhi, serta Hitler di kaji dalam sudut pandang psiko sejarah.
11.  Sejarah Pendidikan
Di Negara-negara barat (Amerika dan Eropa) perhatian pendidikan telah begitu tampak sejak abad ke-19, terutama sekali untuk membangkitkan kesadaran bangsa dan kesatuan budaya, pengembangan profesi guru, atau kebangaan terhadap lembaga-lembaga dan tipe pendidikan tertentu.
Sejarah pendidikan itu memiliki subtansi yang luas, baik yang menyangkut tradisi dan pemikiran-pemikiran berharga dari para pemimpin besar pendidikan. Pada hakikatnya, usia sejarah pendidikan sama tuanya dengan sejarah pada umumnya.
12.  Sejarah Medis
Penulisan sejarah medis di latar belakangi oleh kebutuhan para dokter yang menyadari pentingnya pemahaman tradisi-tradisi pengobatan yang berbeda pada masa lalu pada kahir abad ke-19 di Jerman, sejarah kedokteran berkembang pesat berkat dorongan para dokter dan filolog bahkan Sigeris berjasa membentuk sosok tersendiri dari studi sejarah kedokteran tersebut yang sebelumnya hanya di anggap salah- satu cabang sejarah. Pada tahun 1950-an sejarah kedokteran sudah di ajarkan di berbagai fakulta kedokteran di Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, dan beberapa Negara lainnya. Prinsip dasarnya yang menyebabkan perlu di ajarkan bidng tersebut adalah Whighism, istilah Herbert Batterfield yang artinya memungkinkan terungkapnya berbagai kesalahan, dan menempatkan ilmu pengetahuan di atas keyakinan tahayul.
2.2       Metode dan bantu sejarah
Menggambarkan permasalahan atau pernyataan untuk di selidiki mencari sumber fakta historis, meringkas dan mengefaluasi sumber-sumber historis dan menyajikan fakta-fakta yang bersangkuta dalam suatu kerangka interpretative. Secara sederhana, Ismaun mengemukakan bahwa dalam metode sejarah meliputi (1) heuristic (pengumpulan sumber-sumber); (2) kritik atau analisis sumber (eksternal dan enternal); (3) interpretasi; (4) histiografi (penulisan sejarah).
2.3                  Tujuan dan kegunaan sejarah
Sejak zaman klasik para penulis sudah banyak memberikan penegakkan bahwa sejarah selalu memiliki use value bagi kehidupan manusia. Polybius mengatakan bahwa sejarah adalah philosophy teaching by example. Ia pun mengemukakan bahwa semua orang memiliki cara untuk menjadi baik, yaitu berasal dari pengalaman dirinya sendiri dan berasal dari pengalaman orang lain.
Cicero (106-43 SM) mengemukakan bahwa sejarah adalah cahaya kebenaran, saksi waktu, guru kehidupan atau historia magistra vitae (sejarah adalah guru kehidupan) maupun prima esse historiae legem ne quid falsi dicere audeat, ne quid very non audeat (hokum pertam dalam sejarah ialah takut mengatakan kebohongan, hokum berikutnya tidak takut mengatakan kebenaran).
Secara rinci dan sistematis, Notosusanto mengidentifikasikan empat jenis kegunaan sejarah, yakni fungsi edukatif, fungsi inspiratif, fungsi instruktif, fungsi rekreasi.

2.4              Sejarah perkembangan sejarah
Sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu tertua. Pada abad ke-17 dan ke-18 sejarah mulai secara frmal diajarkan di universitas –universitas di Eropa mulai dari Oxford University hingga Gottingen. Diilhami oleh karya Leovold von Ronke, para sejarawan mulai meninggalkan paradigma sejarah klasik yang telah lama dipraktikan oleh sebagian besar sejarawan sejak abad 18. Mereka memulai memusatkan perhatian pada pemaparan narasi-narasi peristiwa politik yang terutama didasarkan pada dokumen-dokumen resmi.
Embrio lahirnya ilmu sejarah dapat ditarik dalam sejarah historiografi eropa yang akan dilihat sebagai gejala terikat oleh waktu dan terikat pula oleh kebudayaan pada zamannya walaupun sejarah mesir jauh lebih tua (4000 SM) namun karena orang mesir tidak menulis ilmu sejarah realitas tersebut tidak memperkuat pendapat mesir sebagai lahirnya ilmu sejarah yang pertama.
Tulisan-tulisan sejarah di eropa pertama kali muncul dalam bentuk puisi, yaitu homerus (homer) dengan karyanya iliad dan odyssey.
Penuli sejarah yunani yang terkenal adalah Herodotus, Thucydides, dan Polybius. Herodotus menulis karyanya yang berjudul history of the Persian wars. Lain halnya dengan Thucydides yang menulis tentang the Peloponnesian war. Begitupun Polybius, Polybius lebih dikenal sebagai penulis yang mengkaji tentang perpindahan kekuasaan dari tangan Yunani ke Romawi.
Historiografi Romawi pada mulanya masih menggunakan bahasa Yunani, baru kemudian memakai bahasa latin, kemudian pada zaman Kristen awal, seperti tulisan Agustine yang berjudul The City of God adalah filsafat sejarah Kristen yang bertumpu pada agama dan supernaturalisme yang tidak dapat dipisahkan, sedangkan pada zaman Kristen pertengahan, terdapat beberapa nama yang mengisahkan terbentuknya kebudayaan anglo-saxon.
Berbeda dengan tulisan-tulisan pada zaman raenaissance yang melihat semangat pangan dan kebudayaan klasik yunani romawi sebagai model, dimana teologi tidak lagi menjadi focus kajian.
Pada zaman rasionalisme dan pencerahan, sejarawan rene decartes dari prancis, francis bacon dari inggris, dan baruch Spinoza dari belanda, mereka banyak memengaruhi historiografi abad ke 18.
Herder percaya bahwa kemajuan sejarah itu tercapai berkat kerjasama antara factor eksternal dan semangat yang subjektif. Setiap peradaban itu muncul, berkembang, dan menghilang melalui hukum alam tentang perkembangan.
Hal pertama yang perlu dicatat adalah beragamnya nama mengenai materi kajian atau disiplin-disiplin ilmu yang muncul sepanjang abad ke 19 secara periodic, ilmu sejarah memang sudah berlangsng sejak lama dan terminology sejarah pun sudah amat tua, khususnya sejak zaman yunani kuno.
Para sejarawan, seperti robinson, becker, lands, dan tilly yang mendesak perlunya the new history sebagai pengaruh pesatnya perkembangan ilmu-ilmu sosial, karena perkembangan metodologi sejarah ini erat kaitannya dengan usaha-usaha saling mendekat antara sejarah dan ilmu-ilmu sosial. Oleh karena itu, penggunaan ilmu-ilmu sosial adalah wajar bahkan perlu dilakukan guna menambah kejelasan. Jika disimak lebih lanjut, kurun waktu 1950-an tampaknya merupakan titik balik historiografi. Dalam hal ini, ilmu sejarah ekonomi baru, sebagaimana ilmu ekonomi semakin ambisius dan mengejar tujuannya, hal itu acap kali dijadikan model oleh cabang sejarah lain.
Microstroria atau sejarah mikro dapat didefinisikan sebagai usaha mempelajari masa lalu pada level komunitas kecil, baik itu berupa sebuah desa, keluarga, maupun individu.
Para ahli sejarah tradisional melihatnya sebagai semacam antikuarianisme dan pengingkaran terhadap kewajiban para sejarawan untuk menjelaskna bagaimana dunia modern ini terbentuk. Oleh karena itu, sejarah mikro dibela oleh salah seorang praktisi utamanya geofani levi yang menegaskan bahwa reduksi skala justru telah menyingkap fakta, betapa aturan-aturan politik dan sosial acap kali tidak berfungsi dan betapa individu-individu dapat menciptakan ruang untuk diri sendiri di tengah-tengah persilangan berbagai institusi yang ada.

2.5                            Hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya
1.      Hubungan sejarah dengan sosiologi
Para sosiologiwan yang menganalisis persyaratan pembangunan pertanian dan industry di Negara-negara yang disebut Negara berkembang memperoleh kesan yang mereka kaji adalah tentang perubahan dari waktu ke waktu dengan kata lain sejarah.
Disatu pihak, sekarang ini pun sedang terjadi apa yang disebut sosiological history yang menunjuk kepada sejarah yang disusun oleh sejarawan dengan pendekatan sosiologis.
Akhir-akhir ini sedang terjadi apa yang disebut sebagai gejala rapprochement atau proses saling mendekat antara ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial
2.      Hubungan sejarah dengan antropologi
Hubungan ini dapa t dilihat karena kedua disiplin ini memiliki persamaan yang menempatkan manusia sebagai subjek dan objek kajiannya, lazimnya mencakup dimensi kehidupan. Dengan demikian, di samping memiliki titik perbedaan, kedua disiplin itu pun memiliki persamaan. Penggambaran sejarah menampilkan suatu masyarakat di masa lampau dengan berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, religi, dan keseniannya maka gambaran tersebut mencakup unsur-unsur kebudayaan masyarakat. Dalam hal itu ada persamaan bahkan tumpang-tindih antara sejarah dan antropologi.
3.      Hubungan Antropologi Budaya dengan Sejarah
Hal ini dapat dipahami, mengingat ti perhatian para sejarawan, sosiologiwan, mengkritisi sastra, dan lain-lain. Perhatian semakin dicurahkan kepada kebudayaan popular, yakni sikap-sikap dan nilai-nilai masyarakat awam serta pengungkapannya ke dalam kesenian rakyat, lagu-lagu rakyat, cerita rakyat, festival rakyat, dan lain-lain (Burke, 1978; Yeo dan Yeo, 1981). Kedua, mengingat semakin luasnya makna kebudayaan semakin meningkat pula kecenderungan untuk menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang aktif, bukan pasif.
4.      Hubungan Sejarah dengan Psikologi
Dalam berbagai aktivitas kolektif, sejarah sangat mencolok. Disitulah peran psikologi untuk mengungkaap beberapa factor tersembunyi sebagai bagian dari proses mental. Sampai sejauh ini, peranan psikologi dengan sejarah masih agak marginal. Alasannya terletak pada relasi antara psikologi dan ilmu sejarah.
5.      Hubungan sejarah dengan geografi
Hubungan ini dapat dilihat dari suatu aksioma bahwa setiap sejarah senantiasa memiliki lingkup temporal dan spasial (waktu dan ruang), dimana keduanya merupakan factor yang membatasi fenomena sejarah tertentu sebagai unit kesatuan.
Peranan spasial dalam georgrafi distrukturasi berdasarkan fungsi-fungsi yang dijalankan menurut tujuan atau kepentingan manusia  selaku pemakai. dengan demikian, peranan menjadi kesaksian struktur dalam kaitannya dengan periode-periode waktu. Disini hungungan sejarah dengan geografi tidak dapat dipisahkan.
6.      Hubungan sejarah dengan Ilmu Ekonomi
Sejarah ekonomi sejak abad ke 20 semakin menonjol. Terutama setelah proses modernisasi dimana hamper semua bangsa di dunia lebih memfokuskan pembangunan ekonomi.


7.      Hubungan sejarah dengan ilmu politik
Politik adalah sejarah masa kini, dan sejarah adalah politik masa lampau. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa sejarah sering diidentikkan dengan politik, sejauh keduanya menunjukkan proses yang mencakup keterlibatan para actor dalam interaksinya serta peranannya dalam usaha memperoleh apa , kapan, dan bagaimana.

2.6               Menuju Rapproachment sejarah dengan ilmu sosial lainnya.
Suatu perkembangan yang angat menarik dalam ilmu sejarah adalah berbagai arah perkembangan studi sejarah telah timbul pada abad ke 20 yang menimbulkan kecenderungan baru dalam metodologi sejarah. Namun, perlu pula disadari bahwa konsep tentang sejarah pada umumnya berlaku profesi sejarah dewasa ini, sesungguhnya merupakan hasil dari herodotos dan para sejarawan lainnya.
Secara rinci Kartodhirjo, mengemukakan sebab-sebab rapproachment atau proses saling mendekatnya antara ilmu sejarah dengan ilmu sosial lainnya disebabkan oleh beberapa factor, antara lain:
1.      Sejarah deskriptif-naratif sudah tidak memuaskan lagi untuk menjelaskan berbagai masalah atau gejala yang serba kompleks. Karena objek yang demikian memuat berbagai aspeka atau dimensi permasalahan. Maka konsekuaensi logis ialah pendekatan yang mampu mengungkapkannya;
2.      Pendekatan multidimensional, atau social siencetific adalah yang tepat untuk dipergunakan sebagai cara menggarap permasalahan atau gejala diatas;
3.      Ilmu-ilmu sosial telah mengalami perkembangan pesat sehingga dapat menyediakan teori dan konsep yang merupakan alat analitis yang relevan sekali untuk keperluan analitis histiros.
4.      Lagipula, studi sejarah tidak terbatas pada pengakajian hal-hal informative tentang apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana, tetapi untuk melacak berbagai struktur masyarakat, pola kelakukan, kecenderungan proses, dalam berbagai bidang, dan lain-lain. Kesemuanya itu menuntut adanya alat analtis yang tajam dan mampu mengektrapolasikan fakta, usur, pola, dan sebagainya.
BAB III
KESIMPULAN

Istilah sejarah berasal dari bahasa arab, yakni dari kata syajaratun (dibaca syajarah), yang memiliki arti pohon kayu. Setelah menelusuri arti sejarah yang dikaitkan dengan arti kata syajarah dan dihubungkan pula dengan kata histori, bersumber dari kata historia (bahasa yunani kuno) dapat disimpulkan bahwa arti kata sejarah sendiri, sekarng ini memiliki makna sebagai cerita, atau kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masalalu. Yang jelas kata kuncinya bahwa sejarah  merupakan suatu penggambaran atau pun rekonstruksi pristiwa, kisah, maupun cerita, yang benar-benar telah terjadi pada masalalu
Sejarah sebagai peristiwa sering pula disebut sejarah sebagai kenyataan sejarah serba objektif. Sejarah itu adalah ilmu,tidak kurang dan tidak lebih.pernyataan ini mungkin tidak bermaksud untuk memberikan penjelasan batasan tentang sesuatu konsep,melainkan hanya memberikan tingkat pengkategorian sesuatu ilmu atau bukan. Sejarah dapat di simpulkan sebagai hasil rekonstrusi intelektual dan imajinatif sejarawan tentang apa yang telah di pikirkan, di rasakan, atau telah di perbuat, oleh manusia, baik sebagai individu maupun kelompok bedasrkan atas rekaman-rekaman lisan, tertulis, atau peninggalan sebagai pertanda kehadirannya di suatu tempat tertentu.
Sejarah berkaitan erat dengan ilmu sosial yang lain, bahkan menjadi induk bagi ilmu-ilmu tersebut.
Daftar Pustaka
                                                          
Suparman, Dadang., Pengantar Ilmu Sejarah, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar