Selasa, 28 Februari 2017

SISTEM PENANGGALAN (MASEHI, HIJRIAH, JAWA, SUNDA, DAN KOLENJAR)

SISTEM PENANGGALAN
(MASEHI, HIJRIAH, JAWA, SUNDA, DAN KOLENJAR)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Kebantenan
Dosen Pengampu : Weny Widiyawati Bastaman, M.Pd.














Disusun oleh,
Kelompok 2 :
Nadiatus Sholehah
Nuhiyah
Nurul Fajria Faradilla
Nursyiam Eka Handayani
Widiawati

2288150009
2288150010
2288150025
2288150033
2288150037








JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
OKTOBER, 2016

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah karena telah memberikan limpahan nikmat dan karuniaNya, Sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan Makalah “Sistem Penanggalan (Masehi, Hijriah, Jawa, Sunda, Dan Kolenjar)” ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di yaumul akhir nanti.
Penyusunan makalah  ini di dasari pada tinjauan pustaka.  Makalah  ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah Studi Kebantenan. Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Weny Widiyawati Bastaman, M.Pd. selaku Dosen Mata Kuliah Studi Kebantenan dan semua pihak yang telah memberikan bantuannya sehingga makalah ini dapat terselesaikan.   
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Oleh karena itu, Kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
                            
Serang,   Oktober  2016


Penyusun






i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2              Rumusan Masalah........................................................................................... 2
1.3              Tujuan............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1.            Sistem Penanggalan Masehi........................................................................... 3
2.2.            Sistem Penanggalan Hijriah............................................................................ 8
2.3.            Sistem Penanggalan Jawa............................................................................. 16
2.4.            Sistem Penanggalan Sunda........................................................................... 23
2.5.            Sistem Penanggalan Kolenja........................................................................ 24

BAB III KESIMPULAN....................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 33
















ii


BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Sebuah kalender adalah sebuah sistem untuk memberi nama pada sebuah periode waktu (seperti hari sebagai contohnya). Nama-nama ini dikenal sebagai tanggal kalender. Tanggal ini bisa didasarkan dari gerakan-gerakan benda angkasa seperti matahari dan bulan. Kalender juga dapat mengacu kepada alat yang mengilustrasikan sistem tersebut (sebagai contoh, sebuah kalender dinding).
Dalam KBBI, kalender adalah daftar hari dan bulan dalam setahun; penanggalan; almanak; takwim. Yang artinya bahwa kalender dipergunakan sebagai alat yang menjadi penanda perubahan yang sehari-hari kita kenal sebagai waktu.Sedangkan waktu itu sendiri adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Sehingga apabila kita perhatikan serangkaian keadaan tersebut, kita memerlukan adanya patokan-patokan, sehingga kita bisa memahaminya. Oleh karena itu kita mengenal ada penanda waktu seperti hari, tanggal, jam menit, detik dan sebagainya. Akan tetapi, bagaimana penanda waktu tersebut bisa terbentuk? Sistem waktu yang dipergunakan saat ini merupakan hasil dari studi astronomi yang telah dilakukan semenjak adanya peradaban manusia di muka Bumi ini, dan oleh karena itu, astronomi berperanan penting dalam menyusun Sistem Kalender.
Sistem penanggalan Indonesia pada umumnya berdasarkan kalender Masehi. Semua orang sudah lazim menggunakannya. Tetapi sebenarnya, beberapa etnis atau agama di tanah air kita ini memiliki sistem kalender tersendiri yang mereka aplikasikan hingga kini.
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa sistem penanggalan atau kalender yang ada di Indonesia, diantaranya : Sistem penanggalan Masehi,  Hijriah, Sunda, Jawa dan Kolenja.
1.2              Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sistem Penanggalan Masehi?
2.      Bagaimana Sistem Penanggalan Hijriah?
3.      Bagaimana Sistem Penanggalan Jawa?
4.      Bagaimana Sistem Penanggalan Sunda?
5.      Bagaimana Sistem Penanggalan Kolenjar?
1.3              Tujuan
1.      Untuk mengetahui Sistem Penanggalan Masehi
2.      Untuk mengetahui Sistem Penanggalan Hijriah
3.      Untuk mengetahui Sistem Penanggalan Jawa
4.      Untuk mengetahui Sistem Penanggalan Sunda
5.      Untuk mengetahui Sistem Penanggalan Kolenjar















BAB II
PEMBAHASAN
2.1.            Sistem Penanggalan Masehi
a.       Sejarah sistem penanggalan Masehi
Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1). Namun untuk penghitungan tanggal dan bulan mereka mengambil kalender bangsa Romawi yang disebut kalender Julian (yang tidak akurat) yang telah dipakai sejak 45 SM, mereka hanya menetapkan tahun 1 untuk permulaan era ini. Perhitungan tanggal dan bulan pada Kalender Julian lalu disempurnakan lagi pada tahun pada tahun 1582 menjadi kalender Gregorian. Penanggalan ini kemudian digunakan secara luas di dunia untuk mempermudah komunikasi.
Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) berasal dari bahasa Arab (المسيح), yang berarti "yang membasuh," "mengusap" atau "membelai." (lihat pula Al-Masih)Dalam bahasa Inggris penanggalan ini disebut "Anno Domini" / AD (dari bahasa Latin yang berarti "Tahun Tuhan kita") atau Common Era / CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan "Before Christ" / BC (sebelum [kelahiran] Kristus) atau Before Common Era / BCE (Sebelum Era Umum).
Sistem kalender Masehi adalah salah satu system penanggalan yang dibuat berdasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari (syamsiah solar system) yang penaggalannya dimulai semenjak kelahiran Nabi Isa Almasih as. (sehingga disebut Masehi ;Masihi). Nama lain dari kalender ini adalah kalender Milladiah (kelahiran).Penanggalan masehi atau miladi di perkenalkan dan diproklamirkan oleh keraja romawi. Dalam sejarah, kerajaan romawi didirikan oleh  raja romolus pada tanggal 21 april 753 SM. Kalender pada saat itu  adalahkalender sepuluh bulan dengan 304 hari dalam satu tahun yaitu mulai bulan maret dan berakhir pada bulan desember ditambah dua bulan tanpa nama. Secara lengkap urutannya adalah Martinus, kemudian Aprilis, Majus, Junius, Quintilis, Sextilis, September, October, Nopember, December.Raja berikutnya, numa pompilius memindahkan dua bulan yang tak bernama itu sebagai awal bulan yang dan menamakannya sebagai bulan januarius dan pebruarius dalam satu berjumlah 355 hari.Kemudian pada tahun  46 masehi, Kaisar Romawi yang terkenal  Julius Caesar atas nasehat Sosigenas (Astronom Iskandaria) memperbaiki sistem penanggalan tersebut dengan berdasar rotasi bumi terhadap Matahari, yaitu jumlah hari rata-rata dalam satu tahun syamsiyah bukan 355 tetapi sebanyak 365 hari dan 1/4hari.  Dari ¼ hari yang terkumpul setiap tahunnya kemudian ditambahkan setiap empat tahun sekali ke dalam perhitungan tahun yang ke empat tersebut, yang dikenal dengan nama tahun Kabisat.. Bulan yang kelima (Quintilis) dan ke enam (Sextilis) namanya diubah menjadi Juli dan Agustus yang jumlah harimya sama yaitu 31 hari
Penanggalan hasil koreksian ini dinamakan penanggalan Julian dan menjadi dasar kalender Masehi sekarangPada tahun 325 M (370 tahun setelah tarikh Julian) diadakan rapat gereja di Nicea untuk mengoreksi ketetapan tarikh Julian. Satu tahun pada tarikh Julian =365,35 hari padahal sebenarnya peredaran matahari per tehun adalah 365,2422 hari. Hal ini berarti ada selisih 0,0078 hari atau 1/128 hari = 11,23 menit dalam satu tahun. Perbedaan tersebut akan menjadi satu hari dalam 128 tahun. Oleh karena itu, pada saat diadakan rapat gereja itu peradaban sudah mencapai 3 hari, yakni 370 : 128 x 1 hari=2,8906 hari. Dengan demikian, permulaan musim bunga yang semula ditetapkan tanggal 24 Maret dimajukan 3 hari menjadi tanggal 21 Maret.
Perubahan dan koreksi terhadap tarikh Julian kemudian juga dilakukan setelah lama berselang oleh Paus Gregorius XXI pada tahun 1582 M, atas saran astronom Klavius setelah muncul keraguan akan saat-saat penentuan wafatnya Isa al-Masih. Maka, pada tanggal  4 Oktober 1582, ia memerintahkan agar harinya tidak lagi tanggal 5 Oktober 1582 akan tetapi loncat 10 hari jadi tanggal 15 Oktober 1582. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi keraguan bahwa peringatan wafatnya Isa al-Masih dilakukan sesuai dengan keadaan sesungguhnya yaitu jatuh pada bulan purnama segera setelah matahari melintasi titik Aries.Selain itu, koreksi juga dilakukan terhadap ketentuan tahun-tahun abadi yang sebelumnya disamakan dengan tahun-tahun biasa yaitu tahun 1700, 1800, dan 1900 dst termasuk kabisat bila habis dibagi 400, maka termasuk tahun basithoh. Untuk itu, dalam perhitungan tarikh masehi ini akan dikurangi 13 hari dengan perincian 10+ 3 = 13. Angka 10 didapat dari “lompat 10 hari” yaitu 5 Oktober 1582 loncat ke 15 Oktober 1582 dan angka 3 didapat dari tahun-tahun abadi ( tahun 1700, tahun 1800, dan tahun 1900) yang semula dianggap termasuk tahun kabisat karena habis dibagi 4 oleh Gregorius diubah menjadi tahun basithoh karena tidak habis dibagi 400 bukan 4. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah koreksi Gregorian Ketentuan tarikh Gregorian itu  selengkapnya adalah sebagai berikut.1.Permulaan tarikh Gregorian dimulai sejak tahun kelahiran Nabi Isa AS yaitu 1 Januari tahun 1 jam 00:00 (saat matahari berada pada kulminasi bawah).2.Tahun-tahun yang bukan termasuk tahun abadi baru bisa disebut tahun kabisat bila habis dibagi 4. Apabila tidak maka disebut tahun basithoh dengan ketentuan satu hari kelebihan dalam tahun kabisat dimasukkan dalam bulan Februari. Oleh karena itu jumlah hari dalam bulan Februari terkadang 28 hari bila termasuk tahun basithah dan 29hari bila termasuk tahun kabisat.3.Jumlah hari dalam satu tahun untuk tahun kabisat 366 hari dan untuk tahun basithah 365 hari.4.Jumlah hari dalam satu bulan dapat berubah-ubah antara 31 dan 30 hari kecuali bulan Februari. Bulan Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember jumlah harinya 31 hari, sedangkan untuk bulan April, Juni, September, dan Nopemberberjumlah 30 hari.
Oleh karena dalam tarikh Masehi ini ditetapkan ada satu tahun kabisat dalam setiap empat tahun (daur), maka jumlah hari dalam satu daurnya adalah 365 hari x 3 ditambah 366 hari= 1461 hari.b.Perhitungan Tahun Masehi1)Tahun Sideris (Tahun Bintang)Sebagaimana telah diketahui bahwa tahun Syamsiah/Masehi itu didasarkan pada peredaran semu matahari pada ekliptiknyasepanjang tahun. Matahari bergeser disepanjang ekliptika itu di antara bintang-bintang yang bertaburan sepanjanglingkaran ekliptika matahari itu. Gugusan-gugusan bintang itu dinamai dengan zodiak atau buruj. Sesuai dengan namanya, maka sebagian dari bintang-bintang itu terdiri dari nama-nama hewan (zoo=hewan). Ekliptika matahari tersebut dibagi atas 12 zodiak yang besarnya masing-masing zodiak adalah 300 yang ditempuh oleh matahari dalam waktu sebulan, dengan arah pergeseran pada ekliptika adalah dari barat ke timur, atau berlawanan dengan putaran semu hariannya, yaitu dari Timur ke Barat.Jika salah satu di antara bintang-bintang pada lingkaran ekliptika ini kita ambil sebagai titik permulaan bergesernya matahari, maka tatkala matahari itu kembali lagike titik permulaan tadi, berarti matahari telah menempuh penuh sekali putar pada lingkaran ekliptika yang besarnya 3.600 bintang, lamanya 365,25636 hari = 365 hari 6 jam 9 menit 9 detik.2)Tahun Tropis (Tahun Musim).
Menurut penelitian para ahli Astronomic telah mengetahui bahwa titik Aries (Titik musim bunga) yaitu salah satu di antara dua titik perpotongan lingkaran ekliptika dengan equator langit, melakukan pergeseran pada lingkaran ekliptika dengan yang lamanya 26.000 tahun skali putar penuh. Jadi satu tahun ditempuh hanya 0’50’’ saja.pergeseran ini disebut pressessi titik Aries. Sebabnya karena titik Aries itu berputar dengan arah Timur ke Barat (Positif), sedangkan matahari bergeser dengan arah Barat ke Timur (Negatif), maka titik Aries pun bergeser seolah-olah menyongsong kedatangan matahari, maka titik tempat berimpitmya matahari dengan titik Aries tidak tetap, melainkan bergeser pula sejauh 0’0’50’’ = 0,01396 pada busur ekliptika tiap tahun dengan arah positif.Maka waktu yang berlangsung antara dua kedudukan matahari yang sama dan berturut-turut terhadap titik Aries adalah:360 x 365,25636 hari = 365,24220 hari360 + 0,01396= 365 hari, 5 jam 48 menit 46 detik.Jadi perbedaan panjang tahun dengan tahun tropis = 365,25636 hari – 365,24220 hari = 0,001416 hari = 20 menit 23 detik setiap tahun. Inilah yang yang menjadi kacaunya Yulian 5 Jam 48 menit 46 detik. Jadi perbedaan panjang tahun Syderis dengan tahun tropis = 365,25636 hari – 365,24220 hari = 0,001416 hari = 20 menit 23 detik setiap tahun. Inilah yang menjadi kacaunya tahun Yulian, yang kemudian diperbaiki oleh Greogorius XIII setelah 16 abad lamanya
b.      Sistem Perhitungan Penanggalan Masehi melakukan perhitungan untuk menentukan hari dan pasaran untuk tiap-tiap awal bulan masehi.
Perhitungan untuk mencari hari dan pasaran ini dapat dilakukan dengan beberapa cara; Antara lain:1)Ketentuan Umuma)1 tahun masehi = 365 hari (basithoh), februari = 28 hari atau 366 hari (kabisat), februari = 29 hari.b)Tahun kabisat adalah bilangan tahun yang habis dibagi 4 (misalnya 1992, 1996, 2000, 2004), kecuali bilangan abad yang tidak habis dibagi 4 (misalnya 1700, 1800, 1900, 2100 dst), selain itu adalah basithohc)1 siklus = 4 tahun (1461 hari).d)penyesuaian akibat anggaran Gregorius sebanyak 10 hari sejak 15 oktober 1582 M serta penambahan 1 hari pada setiap bilangan abad yang tidak habis dibagi 4 sejak tanggal tersebut, sehingga sejak tahun 1900 sampai 2099 ada penambahan koreksi 13 hari (10 + 3).2)Menghitung Hari dan PasaranMenghitung hari dan pasaran pada tanggal 1 januari suatu tauhn dengan cara:a)Tentukan tahun yang akan dihitungb)Hitung tahun tam, yakni tahun yang bersangkutan dikurangi satu.c)Hitung berapa siklus selama tahun tam tersebut, yakni interval (tahun tam : 4)d)Hitung berapa tahun kelebihan dari sejumlah siklus tersebute)Hitung berapa hari selama siklus yang ada, yakni siklus x 1461 harif)Hitung berapa hari selama tahun kelebihan tersebut, yakni kelebihan tahun x 365 hari atau 1 tahun = 365 hari, 2 tahun = 730 hari, 3 tahun = 1095 hari, 4 tahun = 1461 hari.g)Jumlahkan hari-hari tersebut dan tambahkan 1 (tanggal 1 januari)h)Kurangi dengan koreksi Gregorian, yakni 10 + … harii)Jumlah hari kemudian dibagi 7, selebihnyadihitung mulai hari sabtu atau 1 = sabtu, 2 = ahad, 3 =senin, 4 = selasa, 5 = rabu, 6 = kamis, 7 = jum’at, 0 = jum’atj)Jumlah hari kemudian dibagi 5, selebihnyadihitung mulai pasaran kliwon atau 1 = kliwon, 2 = legi, 3 =pahing, 4 = pon, 5 = wage, 0 = wage.3)ContohPerhitunganTanggal 1 januari 2004 MWaktu yang telah dilalui = 2003 tahun, lebih 1 hari atau 2003 : 4 = 500 siklus, lebih 3 tahun, lebih satu hari.500 siklus                   = 2003 tahun x 1461 hari         = 730500 hari3 tahun                       = 3 x 365 hari       = 1095     hari1 hari= 1           hariJumlah                                                       = 731596 hariKoreksi Gregorius      = 10 + 3= 13         hariJumlah                                                       = 731583 hari731583 : 7 = 104551, lebih 6 = kamis, (dihitung mulai sabtu)731583 : 5 = 146316, lebih 3 = Pahing,(dihitung mulai kliwon)Jadi tanggal 1 januari 2004 jatuh pada hari kamis pahing.Setelah hari dan pasaran pada tanggal 1 januari pada suatu tahun sudah diketahui, maka untuk menentukan hari dan pasaran pada tanggal 1 bulan-bulan berikutnya, dapat digunakan jadwal berikut ini, tetapi harus diketahui tahun yang dicari itu tahun kabisat atau basithoh. Berikut jadwal yang dimaksud.
2.2.            Sistem Penanggalan Hijriah
Setiap kali memperingati tahun baru, orang umumnya menunggu tengah malam sebagai pergantian tahunm karena dalam sistem penanggalan syamsiyah atau peninggalan matahari pergantian itu memang terjadi tepat pada pukul 24.00. sementara pergantian hari dan tanggal dalam sistem kalender Islam ialah maghrib, karena menunggunakan sistem penanggalan qamariyah.
Sistem penanggalan Islam yang kemudaian dikenal dengan kalender Hijriah itu dimulai dengan peristiwa Hijrah – yaitu peristiwa berkenaan dengan kepindahan Rasulullah s.a.w dan para sahabat beliau dari Makkah ke Yastrib, yang kemudian diubah namanya oleh Rasulullah menjadi Madinah. Sedangkan yang menetapkan Hijrah itu sendiri sebagai permulaan kalender Islam bukanlah Nabi, melainkan Umar Ibn Khattab, sahabat Nabi dan juga khalifah kedua yang dikenal mempunyai banyak reputasi dan pelopor dalam beberapa hal.
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari.
Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.
Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari). Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.   ”- At Taubah(9):36 -
Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.
Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan:
No
Nama Bulan
Hari
1
Muharram
30
2
Safar
29
3
Rabiul Awal
30
4
Rabiul Akhir
29
5
Jumadil Awal
30
6
Jumadil Akhir
29
7
Rajab
30
8
Syaban
29
9
Ramadhan
30
10
Syawal
29
11
Dzulkaidah
30
12
Dzulhijah
29 atau 30

Total
354 atau 355
Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya Matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari:
a.       Al-Ahad (Minggu)
b.      Al-Itsnayn (Senin)
c.       Ats-Tsalaatsa' (Selasa)
d.      Al-Arbaa-a / Ar-Raabi' (Rabu)
e.       Al-Khamsah (Kamis)
f.       Al-Jumu'ah (Jumat)
g.      As-Sabt (Sabtu)
Penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Namun, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah.
Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting pada tahun tersebut. Misalnya, tahun di mana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan "Tahun Gajah", karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka'bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).
Pada era kenabian Muhammad, sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 setelah Hijrah, turun ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad.
Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun di mana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharram Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.
Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Hijriyah adalah:

Penanggalan
Hari
Keterangan

1
1 Muharram
Tahun Baru Hijriyah
Tahun baru umat Islam

10 Muharram  
Hari Asyura
Saat Nabi Adam diciptakan, dan saat di mana ia bertaubat
Saat bahtera Nabi Nuh mendarat
Saat Nabi Idris diangkat ke Surga
Saat Nabi Ibrahim selamat dari api Namrudz
dan banyak lagi


12 Rabiul Awal
Maulud Nabi Muhammad
Hari kelahiran Nabi Muhammad

27 Rajab
Isra Miraj


1 Ramadhan
Puasa
Satu bulan penuh umat Islam menjalankan Puasa di bulan Ramadan


17 Ramadhan
Nuzulul Quran
Pertama kali Al Quran diturunkan


10 hari ganjil terakhir Ramadan
Lailatul Qadar
Malam penuh kemuliaan di bulan Ramadhan


1 Syawal
Idul Fitri
Hari Raya Idul Fitri

8 Dzulhijjah
Hari Tarwiyah
Umat Islam yang berhaji, berangkat menuju Mina
Saat Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya Nabi Ismail


9 Dzulhijjah
Wukuf
Wukuf di Padang Arafah

10 Dzulhijjah
Idul Adha
Hari Raya Idul Adha


11, 12, 13 Dzulhijjah
Hari Tasyriq   


Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni mengamati penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah bulan baru (ijtima). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang tersebut telah memasuki tanggal 1.
Sedangkan hisab adalah melakukan perhitungan untuk menentukan posisi bulan secara matematis dan astronomis. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan di mana hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru) dapat terlihat. Hisab seringkali dilakukan untuk membantu sebelum melakukan rukyat.
Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah, seperti bulan Ramadan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (di mana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha). Penentuan kapan hilal dapat terlihat, menjadi motivasi ketertarikan umat Islam dalam astronomi. Ini menjadi salah satu pendorong mengapa Islam menjadi salah satu pengembang awal ilmu astronomi sebagai sains, lepas dari astrologi pada Abad Pertengahan. Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung (rukyatul hilal). Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Metode hisab juga memiliki berbagai kriteria penentuan, sehingga seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadan atau Hari Raya Idul Fitri.
Menurut perhitungan, dalam satu siklus 30 tahun Kalender Hijriyah, terdapat 11 tahun kabisat dengan jumlah hari sebanyak 355 hari, dan 19 tahun dengan jumlah hari sebanyak 354 hari. Dalam jangka panjang, satu siklus ini cukup akurat hingga satu hari dalam sekitar 2500 tahun. Sedangkan dalam jangka pendek, siklus ini memiliki deviasi 1-2 hari. Microsoft menggunakan Algoritma Kuwait untuk mengkonversi Kalender Gregorian ke Kalender Hijriyah. Algoritma ini diklaim berbasis analisis statistik data historis dari Kuwait, namun dalam kenyataannya adalah salah satu variasi dari Kalender Hijriyah tabular. Untuk konversi secara kasar dari Kalender Hijriyah ke Kalender Masehi (Gregorian), kalikan tahun Hijriyah dengan 0,97, kemudian tambahkan dengan angka 622. Setiap 33 atau 34 tahun Kalender Hijriyah, satu tahun penuh Kalender Hijriyah akan terjadi dalam satu tahun Kalender Masehi. Tahun 1429 H lalu terjadi sepenuhnya pada tahun 2008 M.
Sistem Kalender Jawa berbeda dengan Kalender Hijriyah, meski keduanya memiliki kemiripan. Pada abad ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan Kalender Saka (berbasis Matahari) yang berasal dari India. Sistem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Namun, demi kesinambungan, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke 1547 Jawa. Berbeda dengan Kalender Hijriah yang murni menggunakan visibilitas Bulan (moon visibility) pada penentuan awal bulan (first month), Penanggalan Jawa telah menetapkan jumlah hari dalam setiap bulannya.
2.3.            Sistem Penanggalan Jawa
A.       Sejarah Sistem Penanggalan Jawa
Sebelum beredarnya Kalender Jawa yang seperti saat ini, di pulau Jawa terutama pada jaman kerajaan Mataram, orang menganut penanggalan Saka atau Kalender Saka. Kalender ini berasal dari India dan menggunakan perhitungan bulan dan matahari. Kalender ini masuk ke Indonesia seiring dengan pengaruh agama Hindu yang mulai masuk ke Indonesia sekitar abad ke 4-5. Di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, sistem penanggalan ini di adaptasi lagi agar sesuai dengan corak penanggalan lokal. 
Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya dan yang mendapat pengaruhnya. Penanggalan ini memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang merupakan bagian budaya Barat. Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad sampai Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di Jawa. Salah satu upayanya adalah mengeluarkan dekret yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan). Uniknya, angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah (saat itu 1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Dekret Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.
Sekarang masa Sultan Agung sudah lama berselang, banyak kalangan yang  berpendapat bahwa Penanggalan Jawa sudah waktunya perlu diadakan perubahan atau penyesuaian dengan perkembangan jaman, supaya tetap elegan dan flexibel di segala jaman. Tetapi supaya tetap tidak kehilangan roh atau jatidiri dalam mengadakan perubahan tersebut jangan merubah makna dan filosofi aslinya, seperti yang terjadi dalam sejarah terjadinya perubahan Penanggalan Jawa. Walau perubahan tersebut berkali-kali, tetapi tetap tidak merubah makna dan filsafat aslinya. Barangkali karena perubahan yang dilakukan Sultan Agung Hanyakrakusuma cukup signifikan, sehingga mengakibatkan keterpurukan bangsa ini semakin parah sejak runtuhnya Majapahit, dan sampai sekarang keterpurukan itu belum pulih karena akibat dari hilangnya Jatidiri bangsa ini. Sementara itu, mulai masa Sultan Agung sampai sekarang, belum ada yang berani melakukan perubahan atau penyesuaian. Ada yang berpendapat  kalau Penanggalan Jawa seharusnya setiap 75 atau 120 tahun sekali harus diadakan penyesuaian. Ada yang berpendapat, kalau sekarang dekade perhitungan tahun ABOGE sudah berakhir dan sudah seharusnya diganti decade perhitungan tahun ASOPON. Terlepas dari berbagai pendapat tersebut, lebih baik demi kembalinya sebuah Jati Diri bangsa, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang punya dan kuat Jati diri nya. lebih baik  kita kembali pada Penanggalan Jawa asli yang diciptakan oleh Mpu Hubayun (911 SM) dan kita usahakan menjadi kalender nasional atau bahkan kalender internasional, karena Jawa adalah Global genius, bukan Local genius. Dengan pertimbangan :
a.       Penanggalan Jawa Mpu Hubayun adalah Penanggalan Jawa asli dan yang pertama atau tertua (911 SM).
b.      Kalender yang penuh dengan nilai-nilai filosofi tinggi, yang menandakan bangsa kita adalah bangsa yang besar. Sehingga kalau bisa Penanggalan Jawa diangkat menjadi Kalender Nasional Negara Indonesia. Karena tidak semua bangsa dan negara di dunia memiliki kalender sendiri.
c.       Kalender yang mengarah pada keselarasan atau keharmonian alam  semesta, karena berdasarkan proses awal terjadinya alam semesta (Sangkan Dumadining Bhawana).
d.      Penanggalan Jawa yang selaras dengan aksara Jawa, Sangkan Dumadining Bhawana dan Sangkan paraning Dumadi.
e.       Satu-satunya kalender di dunia yang mengakomodasi makrokosmos dan mikrokosmos, sehingga tidak sekedar kalender yang hanya memakai hitungan angka.
f.       Penanggalan Jawa harus berdiri diatas semua golongan (agama,suku). Karena makna kata Jawa itu sendiri tidak bermakna sukuisme maupun kedaerahan (teritorial). Sedangkan Penanggalan Jawa Sultan Agung, selain adanya polemik dengan berbagai pendapat yang berbeda juga terlalu banyak mengadopsi pengaruh Islam. Sehingga orang yang tidak memeluk agama Islam, muncul perasaan tidak merasa ikut memiliki, sedang pemeluk agama Islam sendiri  juga banyak yang tidak merasa memiliki karena dianggapnya peninggalan agama Hindhu. Semua itu berakibat hilangnya nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, guyub-rukun, yang menjadi ciri-khas bangsa kita. Akibatnya sekarang ini banyak orang yang sudah tidak mengenal lagi atau sudah tidak peduli pada Penanggalan Jawa, aksara Jawa dan Budaya Jawa.
g.      Kalender atau penanggalan adalah simbol kehidupan sehari-hari, sementara kalender yang ada sekarang ini dan menjadi kalender resmi nasional negara Indonesia, tercetak angka besar kalender Masehi dan angka kecil kalender Hijriah. Tanpa kita sadari sudah cukup lama ada kekuatan tertentu yang ingin menghancurkan Indonesia dengan berawal menghilangkan simbol kehidupan sehari-hari. Alhasil sekarang ini secara umum bangsa kita merasa malu, hina dan tidak bangga menggunakan simbol-simbol Nusantara dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga terpuruklah bangsa kita sekarang ini.
B.     Penetapan Hari dan Pasaran pada Penanggalan Jawa
Sebelum masuknya pengaruh islam pada sistem penanggalan Jawa, orang Jawa mengenal pekan yang jumlahnya berbeda-beda (tidak hanya 7 hari saja). Jumlahnya adalah antara 2 hingga 9 hari. Pekan-pekan ini memiliki nama dwiwara (untuk 2 hari), triwara (3 hari), caturwara (4 hari), pancawara (5 hari), sadwara (6 hari), astawara (8 hari) dan sangawara (9 hari). Pada zaman sekarang, jumlah pekan yang digunakan pada umumnya adalah pekan yang terdiri dari 5 hari (sistem pasaran) dan 7 hari.
1)                  Sistem 7 hari yang ditetapkan :
a.       Hari ke-1 berdasarkan Surya disebut  Radite atau Rawiwara sekarang Minggu (Dipengaruhi Planet Matahari), naptunya 5.
  1. Hari ke-2 berdasarkan Rembulan disebut Suma atau Sumawara sekarang Senen (Dipengaruhi Planet Bulan), naptunya 4.
  2.  Hari ke-3 berdasarkan  Kartika-I disebut Anggara atau Manggala sekarang Selasa (Dipengaruhi Planet Mars), naptunya 3.
  3. Hari ke-4 berdasarkan Pertiwi disebut Buda atau Pertala sekarang Rabu (Dipengaruhi Planet Bumi), naptunya 6.
  4. Hari ke-5 berdasarkan  Kartika-II disebut Respati sekarang Kamis (Dipengaruhi Planet Jupiter), naptunya 8.
  5.  Hari ke-6 berdasarkan  Kartika-IV disebut Sukra sekarang Jum’at (Dipengaruhi Planet Uranus dan Venus), naptunya 6.
  6.  Hari ke-7 berdasarkan  Kartika-III disebut Tumpak sekarang Sabtu (Dipengaruhi Planet Saturnus), naptunya 9.
2)                  Sistem 5 hari (pasaran) yang ditetapkan :
a.       Cahaya berwarna Putih disebut  Pethakan sekarang  disebut Manis/Legi, unsur Udara atau Oksigen. Naptunya  5.
  1. Cahaya berwarna Merah disebut  Abritan sekarang  disebut Jenar/Pahing, unsur Api atau Nitrogen. Naptunya 9.
  2. Cahaya berwarna Kuning disebut  Jene’an sekarang  disebut Palguna/Pon, unsur Cahaya atau Foton. Naptunya 7.
  3. Cahaya berwarna Hitam disebut  Cemengan sekarang  disebut Langking/Wage, unsur Tanah atau Carbon. Naptunya 4.
  4. Cahaya berwarna Hijau disebut Gesang atau pancer disebut Kasih/Kliwon, unsur air atau Hidrogen. Naptunya 8.
C.                 Daftar bulan Jawa Islam
Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta seperti Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian berkaitan dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan hijriah, misalnya Pasa berkaitan dengan puasa Ramadhan, Mulud berkaitan dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah berkaitan dengan Nisfu Sya'ban di mana dianggap amalan dari ruh selama setahun dicatat.

No

Penanggalan Jawa

Lama Hari

1

Sura

30

2

Sapar

29

3

Mulud

30

4

BakdaMulud

29

5

Jumadil Awal

30

6

Jumadil Akhir

29

7

Rajab

30

8

Ruwah (Sya’ban)

29

9

Pasa

30

10

Syawal

29

11

Sela (Apit)

30

12

Besar (Dulkahijjah)

29/(30)

Total

354 (355)
Nama-nama bulan tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Warana            =  Sura, artinya rijal
  2. Wadana           =  Sapar, artinya wiwit
  3. Wijangga         = Mulud, artinya kanda
  4. Wiyana            = Bakda Mulud, artinya ambuka
  5. Widada           = Jumadil Awal, artinya wiwara
  6. Widarpa          = Jumadil Akhir, artinya rahsa
  7. Wilapa             = Rejep, artiya purwa
  8. Wahana           = Ruwah, artinya dumadi
  9. Wanana           = Pasa, artinya madya
  10. Wurana            = Sawal, artinya wujud
  11. Wujana            = Sela, artinya wusana
  12. Wujala             = Besar, artinya kosong
Salah satu kelebihan sistem kalender Islam – Jawa ( yang murni dirumuskan oleh orang – orang Islam – Jawa), karena sistem kalender ini bersifat hampir “sangat pasti” dalam ketepatan hitungannya.
2.4.            Sistem Penanggalan Sunda
Penanggalan Sunda atau kalender Sunda adalah sistem penanggalan atau kalender yang digunakan oleh masyarakat tradisional Sunda di Nusantara (sekarang Indonesia). Kalender Sunda atau Kala Sunda sudah ada sebelum kalender Hijriah, Masehi, bahkan kalender Jawa.
Kalender Sunda sendiri hampir memiliki jumlah bulan, minggu, dan hari yang sama dengan kalender Masehi, yang membedakannya ialah penamaan nama bulan, minggu, dan harinya. Sistem penanggalan Sunda mengenal dua macam tahun, yakni tahun Surya dan tahun Candra. Masing-masing tahun juga mengenal tahun pendek (Surya 365 hari; Candra 354 hari) dan tahun panjang (Surya 366 hari: Candra 355 hari). Kala surya saka sunda (tahun surya) mengenal aturan tiga tahun pendek, keempatnya thun panjang. Akan tetapi setiap tahun yang habis dibagi 128 dijadikan tahun pendek, akhir tahun surya adalah ketika matahari berada dititik paling selatan. Kala candra caka sunda (tahun candra) memiliki aturan bahwa dalam sewindu terdiri dari 8 tahun.
Nenek moyang Sunda sudah mengenal sistem penyebutan atau penamaan hari dari kalender Sunda atau Kala Sunda yaitu Saptawara ("sapta" = tujuh, "wara" = hari atau dinten). Nenek moyang orang Sunda memiliki 2 sistem penanggalan yaitu Candrakala atau Caka adalah penanggalan menurut bulan digunakan untuk administrasi pemerintahan zaman dulu atau kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda, dan Suryakala atau Saka adalah penanggalan menurut matahari yang digunakan sebagai penentuan musim bercocok tanam.
Nama hari dalam Kala Sunda
Minggu
Radite
Senin
Soma
Selasa
Anggara
Rabu
Buda
Kamis
Respati
Jumat
Sukra
Sabtu
Tumpek

Nama Bulan dalam Kala Sunda
Masehi
Candra Kala
Surya Kala
Januari
Kartika (30)
Kasa (30)
Februari
Margasari (29)
Karo (31)
Maret
Posya (30)
Katiga (30)
April
Maga (29)
Kapat (31)
Mei
Palguna (30)
Kalima (30)
Juni
Setra (29)
Kanem (31)
Juli
Wesaka (30)
Kapitu (30)
Agustus
Yesta (29)
Kawalu (31)
September
Asada (30)
Kasanga (30)
Oktober
Srawana (29)
Kadasa (31)
November
Badra (30)
Hapitlemah (30)
Desember
Asuji (29/30)
Hapikayu (30/31)

Selain itu ada juga yang disebut pancawara atau pasaran hari sunda (Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon).
Lebih kurang 500 tahun, sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab dengan masyarakatnya. Padahal, praktik “hitung-menghitung hari baik” hingga kini tetap dilakukan orang-orang Sunda yang “pandai”. Malah, orang Sunda sendiri –meski tak semuanya– merasa belum afdal jika hajat mereka (seperti pernikahan, membangun rumah, dan sebagainya) tak “dihitung” terlebih dahulu.
Ternyata, proses “hitung-menghitung” itu bukan berdasarkan sistem penanggalan Sunda, melainkan sistem penanggalan Jawa hasil pengaruh dari sistem penanggalan India. Soalnya, itu tadi, sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab pada masyarakatnya sejak kurang lebih 500 tahun silam.
Yayasan Candra Sangkala menerbitkan kalender Sunda untuk pertama kalinya. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum itu ternyata bertepatan dengan tahun baru Sunda. Yaitu, Tanggal 18 Januari 2005 bertepatan dengan tanggal 01 Suklapaksa (parocaang) bulan Kartika tahun 1941 Caka Sunda.
Penerbitan kalender Sunda itu sebagai hasil kerja keras seorang putra Bandung, Ali Sastramidjaja (70). Pria yang sempat belajar teknik di Negeri Belanda itu, selama 9 tahun meneliti sistem penanggalan Sunda.
2.5.            Sistem Penanggalan Kolenjar
Urang Kanekes, Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.
Orang baduy memiliki sistem kalender yang sesuai benar dengan pola kegiatan pertanian mereka dan memang dipatuhi benar. Perhitungan kalender mereka berdasarkan pada sistem peredaran bulan, seperti halnya kalender Islam. Bulan pertama kalender orang Baduy bersamaan dengan awal kegiatan di huma, yaitu magsa Kapat menurut kalender Jawa.
Ada tiga fungsi kolenjer dalam hal meramal yang mengacu pada aneka jenis kolenjer itu sendiri. Pertama, Kolenjer indit-inditan adalah kolenjer yang digunakan untuk menentukkan hari dan arah mana bila hendak berpergian. Kedua, kolenjer durujana. Kolenjer ini digunakan oleh orang yang mengalami pencurian, dalam arti mencari siapa pelaku yang telah melakukan pencurian. Ketiga, kolenjer bajo. Arti kata bajo sendiri adalah bajak laut, maka kegunaan kolenjer bajo adalah untuk menyerang atau membinaskan orang lain. Penggunaan kolenjer ini dirahasiakan oleh masyarakat kanekes Baduy di daerah Banten.
Kalender Baduy termasuk dalam kalender matahari dimana satu tahun rata-rata sama dengan satu tahun tropis (365 hari matahari 5 jam 48 menit 45.19 detik). Hal ini sangat berguna bagi masyarakat Baduy sebagai acuan dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pertanian. Selain itu Kalender Baduy juga termasuk dalam kalender astronomis dimana penentuan awal tahun dilakukan dengan memperhitungkan faktor pengamatan langit dan pengamatan musim; tidak hanya mengandalkan sistem penghitungan tertentu (kalender matematis).
Masyarakat baduy menggunakan alat yang disebut “kolenjer”. Kolenjer adalah alat untuk menentukan hari yang baik, arah mana yang harus ditempuh untuk suatu tujuan oleh seseorang atau sekelompok orang agar maksud dan tujuan yang diinginkannya dapat dicapai sebagaimana yang diharapkan. Melalui perhitungan yang dilakukan oleh bujangga (orang yang dapat menggunakan kolenjer), saat awal tahun baru sudah dapat ditentukan sebelumnya dan diumumkan sehingga seluruh warga Baduy mengetahui kapan akan jatuh tanggal 1 Kapat (Sapar) tahun berikutnya. Hal ini mudah diketahui karena bertepatan dengan pelaksanaan upacara Seba Laksa.
Kolenjer terbuat dari papan kecil berukuran 6 X 25 cm, diberi lubang / tanda berupa titik dan garis yang tidak tembus membentuk kotak atau gambar. Jumlah titik dalam satu kotak semua tanda yang digoreskan mempunyai arti tertentu dan tafsiran tersendiri. Dalam kolenjer tersebut tertera urutan hari yang mempunyai nilainya sendiri dan pasarannya masing – masing. Setiap pasaran tersebut juga mempunyai nilai.
Penggunaan kolenjer hanya dapat dilakukan oleh para ahli (bujangga). Orang Baduy yang awam tetap berpedoman kepada tradisi warisan leluhur yang sudah terbiasa dalam kehidupan sehari – hari, misalnya saat menentukan awal tahun dengan memperhatikan awal kemunculan bentang kidang di ufuk timur pada waktu shubuh. Oleh karena rasi bintang itu terpotong oleh garis equator tepat pada tengah – tengahnya, pada waktu subuh mudah pula dilihat posisi titik terbit matahari terhadap garis equator yang dalam pengamatan orang awam dihitung menurut posisi kiri atau kanan.
Apabila titik terbit matahari berada di sebelah kiri dari arah dia memandang (berarti sebelah kanan dari bintang), maka matahari sudah bergeser ke utara. Masyarakat Baduy menyebutnya “matapoe geus dengdek ngaler” (matahari condong ke utara).
Namun dalam kenyataan sehari – hari, orang Baduy tidak perlu bangun subuh untuk melihat bentang kidang. Dari pengalaman praktisnya mereka memanfaatkan pula gejala alam lainnya. Ada sejenis “laba – laba rumput: (bersarang pada rerumputan) yang sarangnya jadi berlubang (bolong) pada saat kemunculan bentang kendang. Gejala inilah yang dimanfaatkan. Apabila tampak sarang laba – laba tersebut, itulah tanda awal munculnya bentang kidang. Jenis laba – laba itu diberinya nama “lancah kudang” (laba – laba kijang).
Sebagaimana kalender lain, Kalender Baduy juga mengenal sistem tujuh hari dalam satu pekan (saptawara) yang terdiri dari : Ahad, Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jumat, dan Saptu.









Ada 12 bulan dalam Kalender Baduy yang masing-masing terdiri dari 30 hari, yaitu :
a.                  Bulan ke – 1    : Kapat atau Sapar
b.                  Bulan ke – 2    : Kalima
c.                  Bulan ke – 3    : Kanem
d.                 Bulan ke – 4    : Katujuh
e.                  Bulan ke – 5    : Kadalapan
f.                   Bulan ke – 6    : Kasalapan
g.                  Bulan ke – 7    : Kasapuluh
h.                  Bulan ke – 8    : Hapit kayu
i.                    Bulan ke – 9    :Hapit lemah
j.                    Bulan ke – 10  : Kasa
k.                  Bulan ke – 11: Karo
l.                    Bulan ke –12   : Katiga
Sesungguhnya jumlah bulan pada kalender orang Baduy adalah 10 bulan yang lama tiap bulan masing – masing 30 hari. tetapi untuk penyesuaian dengan masa kemunculan rasi bintang pada posisi tertentu yaitu 359 hari, maka disisipkanlah dua bulan, yaitu bulan ke – 8 dan ke – 9 dengan diberi nama Hapit Kayu dan hapit lemah. Arti harfiah hapit adalah panjang atau kabisat.
Karena hanya ada 30 hari dalam setiap bulan, maka ada selisih lima hari atau enam hari antara Kalender Baduy dengan tahun tropis. Selisih ini tidak termasuk dalam tahun sebelumnya atau tahun berikutnya. Hari-hari ini disebut hari-hari yang diwagekeun. Tahun baru jatuh pada tanggal satu bulan Kapat / Sapar dan tidak boleh tertepatan dengan hari Jumat atau Minggu atau Senin. Karena itu jika tahun baru jatuh pada hari-hari tersebut maka akan digeser ke hari Kamis atau Sabtu atau Selasa yang berdekatan. Peristiwa ngawagekeun tidak terjadi setiap tahun dan hari-hari yang diwagekeun pun tidak selalu tetap jumlahnya tergantung pada hasil penghitungan dari rapat adat. Selain itu, jika pada bulan Hapit Kayu belum bisa dilakukan mipit (panen padi pertama di huma serang oleh istri girang seurat) maka rapat adat akan memutuskan apakah mipit akan tetap dilakukan atau diundur. Jika rapat adat memutuskan bahwa mipit diundur, maka akan terjadi ninggal bulan yang berarti tahun berjalan terdiri dari 13 bulan.
Selain mengandalkan penghitungan kalender, Suku Baduy juga melakukan pengamatan astronomis untuk mematok kalender berjalan dan menentukan waktu yang tepat dalam kegiatan pertanian. Rasi bintang yang sangat penting bagi masyarakat Baduy yaitu rasi bintang Orion (atau Bintang Kidang atau Bintang Waluku atau Bintang Bajak atau Guru Desa) dan rasi bintang Pleiades (atau Bintang Kartika atau Bintang Gumarang). Bintang Kartika biasanya muncul dua pekan sebelum munculnya Bintang Kidang ketika matahari berada di belahan bumi utara. Menurut masyarakat Baduy, pada saat itulah tanah sedang dingin. Sebaliknya, ketika Bintang Kidang mulai terbenam di cakrawala barat dan tidak dapat terlihat adalah saat yang tidak tepat untuk menanam padi karena tanah sedang panas dan banyak serangga hama.
Di antara keduanya, Bintang Kidang memegang peranan paling penting bagi kegiatan berladang di huma serang yang merupakan ladang komunal Suku Baduy dan selalu menjadi acuan bagi kegiatan berladang di ladang huma puun, huma girang seurat, huma tangtu, huma tuladan, dan huma panamping. Pentingnya Bintang Kidang nampak dalam ungkapan berikut yang menggambarkan posisi ketinggian Bintang Kidang dari cakrawala timur pada saat matahari terbit :
a.       Tanggal kidang turun kujang : Ketika Kidang muncul, pisau kujang digunakan. Walaupun Orion sudah muncul pada awal Maret, pembersihan semak di huma serang baru dilakukan pada bulan Kalima (Mei - Juni).
b.      Kidang ngarangsang kudu ngahuru : Ketika Kidang mulai naik, harus membakar semak. Walaupun Orion sudah mulai naik pada tengah April, pembakaran semak di huma serang dilakukan pada bulan Kanem (Juni – Juli).
c.       Kidang mancer kudu ngaseuk : Ketika Kidang di atas kepala, harus menanam padi. Walaupun Orion sudah di zenith pada awal Juni, penanaman padi di huma serang dilakukan pada bulan Katujuh (Juli - Agustus).
d.      Kidang marem turun kungkang : Ketika Kidang sudah padam, turunlah serangga hama. Karena Orion terbenam pada awal September, penanaman padi di huma serang pun tidak boleh melampaui bulan Kadalapan (Agustus - September).
Hingga saat ini belum ada catatan sejarah khusus mengenai kapan awal mula kolenjer dikenal oleh masyarakat Kanekes, namun hal yang pasti bahwa Kolenjer sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat kanekes. Hal ini sangat masuk akal karena kolenjer telah menjadi alat atau ilmu pengetahuan yang bersentuhan dengan kehidupan keseharian masyarakat Kanekes. Pengetahuan akan kolenjer menjadi penting bagi masyarakat Kanekes, sama halnya dengan kalender Gregorian di masyarakat kita pada umumnya. Dalam beberapa artikel yang ditulis mengenai masyarakat Kanekes atau Baduy, sering kali mengaitkan kolenjer dengan pengetahuan bahasa sunda kuno.
Adapun dalam Peraturan Desa Kanekes nomor 1 tahun 2007 yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Lebak Banten, menyebutkan dalam Bab 1, pasal 1 (mengenai peristilahan), bahwa Kolenjer adalah kalender atau sistem penanggalan yang digunakan masyarakat adat Kanekes dan berlaku secara turun-temurun.




















BAB III
KESIMPULAN
Sebuah kalender adalah sebuah sistem untuk memberi nama pada sebuah periode waktu (seperti hari sebagai contohnya). Nama-nama ini dikenal sebagai tanggal kalender. Tanggal ini bisa didasarkan dari gerakan-gerakan benda angkasa seperti matahari dan bulan. Kalender juga dapat mengacu kepada alat yang mengilustrasikan sistem tersebut (sebagai contoh, sebuah kalender dinding).
Sistem penanggalan Indonesia pada umumnya berdasarkan kalender Masehi. Semua orang sudah lazim menggunakannya. Tetapi sebenarnya, beberapa etnis atau agama di tanah air kita ini memiliki sistem kalender tersendiri yang mereka aplikasikan hingga kini.
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa sistem penanggalan atau kalender yang ada di Indonesia, diantaranya : Sistem penanggalan Masehi,  Hijriah, Sunda, Jawa dan Kolenja.













DAFTAR PUSTAKA
Direktorat jendral kebudayaan. 2007. Studi tentang religi masyarakat Baduy di desa kanekes di provisnsi banten. Jakarta : dir jen keb
Garna, Y. 1993. Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Seri Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.
Majid, Nurcholish. 2002. Fatsoen. Jakarta : Republika
Solikhin, Muhammad. 2010. Misteri Bulsn Suro Perspektif islam Jawa. Yogyakarta : Narasi
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Jawa, diunduh pada tanggal 11 Oktober 2016.
http://what-is-java.org/sejarah-filsafat-aksara-dan-kalender-jawa/, diunduh pada tanggal 11 Oktober 2016.
http://www.kalenderjawa.com/mvc/page/view, diunduh pada tanggal 11 Oktober 2016.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar